Bagi Anda yang menikmati kegiatan berbelanja, pernahkah Anda merasa menyesal atau bingung mengapa Anda membeli sebuah produk karena akhirnya tidak/jarang terpakai? Atau mungkin Anda merasa menyesal karena menghabiskan uang terlalu banyak pada satu produk? Hal ini dapat berarti Anda baru saja melakukan impulse buying/spending. Apa sih impulse spending atau belanja impulsif itu? Impulse spending merupakan pengeluaran yang Anda habiskan pada sebuah produk yang sebenarnya yang tidak benar-benar Anda butuhkan. Apabila Anda menggunakan kartu kredit sebagai mode pembayaran, belanja impulsif semakin rentan terjadi dan nantinya dapat membahayakan kondisi keuangan Anda.

Penyebab Impulsive Spending

Impulsive spending dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Bisa jadi dikarenakan berbelanja sesuai dengan mood / suasana hati Anda, misalnya Anda ingin menghibur diri ketika sedang sedih. Impulsive spending juga bisa dikarenakan Anda sudah tahu akan segera mendapatkan dana tambahan seperti kenaikan gaji bulanan. Intinya, penyebab utama belanja impulsif / impulsive spending ini adalah kurangnya kebijakan Anda dalam memikirkan manfaat dari pembelian yang akan dilakukan dikarenakan beragam faktor seperti yang tadi telah disebutkan.

Nyatanya, kita dapat dengan mudah menuliskan beribu alasan untuk membeli sebuah barang. Penting tentunya untuk tidak hanya memikirkan alasan pembelian, tetapi juga kondisi keuangan Anda serta kegunaan barang tersebut setelah Anda membelinya. Apakah barang itu senilai dengan uang yang akan Anda habiskan? Berapa kali Anda akan menggunakannya? Seberapa penting membeli barang tersbebut? Pastikan pembelian itu tidak akan memperburuk kondisi keuangan Anda. Tidak sedikit orang yang rela untuk berutang demi membeli barang tertentu, padahal belum tentu ia memutuskan hal tersebut secara bijak.

Cara Mengurangi Impulsive Spending 

Cari Faktor Utamanya

Untuk mulai mengurangi melakukan impulsive spending, Anda perlu menyadari faktor utama yang mendasari perilaku tersebut. Beberapa pembelian memang didorong oleh faktor fisik. Contohnya ketika Anda menerima undangan pesta pernikahan seorang teman, lalu Anda-pun merasa perlu membeli hadiah untuk perayaan tersebut. Namun Anda perlu menyadari pemancing utama dari impulsive spending ada pada psikologis, yang hadir dalam bentuk proses berpikir sebelum kita melakukan pembelian. Dalam proses berpikir tersebut, kita menemukan alasan tersendiri untuk mendukung pembelian yang akan kita lakukan.

Penting bagi Anda untuk memahami hal apa yang bisanya menjadi alasan/motivasi utama dari impulsive buying yang Anda lakukan. Apakah itu untuk menghibur diri? Atau mungkin hanya untuk mengoleksi barang? Lihat kembali pembelian-pembelian Anda sebelumnya dan temukan alasan yang paling sering Anda pakai sebelumnya. Anda juga dapat bertanya kepada kerabat/keluarga mengenai hal ini.

Selalu Catat Pengeluaran

Tak sedikit dari kita yang baru menyadari pemborosan yang ketika dana kita sudah menipis. Padahal di titik ini, Anda sudah terlanjur memenuhi berbagai macam pengeluaran yang munkgin bersifat kurang penting dan impulsif. Untuk mencegah hal ini, langkah kedua yang harus dilakukan ialah dengan melacak seluruh pengeluaran yang Anda lakukan. Hal ini dapat Anda lakukan dengan bantuan aplikasi smartphone Anda, sehingga catatan keuangan jadi lebih mudah diakses. Catatan pengeluaran ini dapat berfungsi sebagai pengingat Anda di kala Anda akan melakukan pengeluaran baru, apalagi dengan adanya angka total pengeluaran yang sudah Anda lakukan hingga saat ini.

Pahami Kondisi Keuangan Sebelum Berbelanja

Kedua, pastikan Anda memahami kondisi keuangan saat ini sebelum melakukan pembelian. Apa Anda memiliki utang yang perlu dilunasi? Apakah Anda mengalami kesulitan dalam membayar beragam tagihan tiap bulannya? Apabila Anda memiliki masalah keuangan yang perlu dikhawatirkan, sebaiknya segera urungkan niat untuk membeli barang, Pembelian ini mungkin akan menghibur Anda saat ini, namun bisa jadi membawa lebih banyak masalah di kemudian hari. Prioritaskan untuk menstabilkan kondisi keuangan Anda ketimbang membeli barang untuk kepuasan pribadi. Apabila Anda harus membelinya, pastikan harga yang Anda bayarkan seekonomis mungkin dan tidak mengharuskan Anda berkorban besar.

Kontrol Diri dengan Dukungan Kerabat

Ketiga, penting untuk menyadari bahwa mengurungkan niat untuk melakukan impulsive spending membutuhukan niat yang kuat dari dalam diri Anda. Kontrol diri yang optimal sangat dibutuhkan untuk menahan diri Anda dari melakukan impulsive spending. Apabila Anda merasa belum bisa mengandalkan diri Anda sendiri sepenuhnya untuk menahan kegiatan belanja Anda, coba minta bantuan dari orang terdekat Anda untuk ikut mengingatkan secara rutin. Dengan kerjasama dan dukungan dari orang tersayang, Anda dapat menjadi lebih termotivasi untuk mengambil kontrol keuangan Anda lebih baik.

Seluruh langkah ini perlu Anda coba sedikit demi sedikit dari sekarang. Jika masalah belanja impulsif Anda sudah sangat mengganggu hingga membuat tagihan utang Anda menumpuk, Anda bisa menggunakan jasa amalan untuk dapatkan keringanan dan kemudahan dalam penyelesaian utang kartu kredit dan KTA Anda. Klik tombol dibawah untuk mendapatkan konsultasi gratis bersama tim kami!


amalan international merupakan perusahaan manajemen utang berbasis teknologi pertama di Indonesia yang tercatat di OJK. amalan bekerja untuk peminjam dan bekerja sama mencari solusi terbaik dan terjangkau dengan pemberi pinjaman. Program manajemen utang amalan memanfaatkan teknologi dan data yang sah agar klien amalan bisa keluar dari jerat utang dengan lebih cepat, membayar bunga dan penalti yang lebih rendah. Selain program manajemen utang, amalan juga memiliki solusi refinancing yang mengganti utang lama yang memberatkan menjadi utang baru yang lebih ringan. Kantor amalan indonesia didirikan di Jakarta pada tahun 2015 dan telah berhasil membangun tim yang terdiri dari ahli restrukturisasi dan ahli IT dengan pengalaman puluhan tahun. Sejak Juli 2016, amalan indonesia menjadi perusahaan pertama di Asia yang mendapatkan akreditasi dari International Association of Professional Debt Arbitrators (IAPDA).

Share This